Description
Martabat Tujuh Menurut Syaikh Al-Faqih Jalaluddin Al-Asyii di dalam Manuskrip Manzhar al-Ajla ila Ruthbat al-A’la merupakan ajaran yang bermuara dari Kitab Al-Tuhfah al-Mursalah Ila Ruh al-Nabi Shallahu alaihi wa sallam, karya Muhammad Ibnu Syekh Fadhlullah al-Burhanfuri Al-Hindi . Ia adalah seorang sufi dari Gujarat (w. 1620 M). Ajaran Martabat Tujuhnya berdasarkan atas paham dari Imam Muhyiddin Ibn ‘Arabi (w. 1240 M) dan Syekh Abdul Karim al-Jili (w. 1422 M). Ia sebagai pelopor Martabat Tujuh di Nusantara. Ajaran Martabat Tujuh yang muncul dari Gujarat ternyata mempengaruhi perkembangan pemikiran mistik Islam di Aceh. Pada abad 17 terkenal ada empat tokoh pemikir sufi di Aceh yang mengembangkan ajaran Martabat Tujuh yaitu Hamzah Fansuri (w.1636 M) , Syamsudin Pasai (w. 1630 M), Abdul Rauf dari Singkel (1617-1690 M) dan Nuruddin Ar-Raniri (w.1685 M) yang kemudian selanjutnya di jelaskan oleh salah satu ulama Aceh yaitu Syekh Faqih Jalaluddin al-Asyi (ulama besar dan penulis kitab Hidayah al-‘Awam) menjabat sebagai mufti, imam besar, sekaligus Qadhi Malikul Adil Kesultanan Aceh Darussalam pada masa pemerintahan dua Sultan yaitu sultan Alauddin Maharaja Lela Ahmad Syah (1727-1735 M) Sultan Alauddin Johan Syah (1735—1760 M)
Ajaran Martabat Tujuh menjelaskan bahwa Allah Ta’ala menyatakan diri-Nya dalam Tujuh Martabat yaitu Martabat Ahadiyah, Martabat Wahdah, Martabat Wahidiyah, Martabat Alam Arwah, Matabat Alam Mitsal, Martabat Alam Ajsam dan Martabat al-Insan.






Reviews
There are no reviews yet.